Prihatin

“Gapapa Mas, biar belajar prihatin”.

Itulah jawab seorang Ibu berjilbab sore itu didalam PATAS AC 62 ketika saya menawarkan tempat duduk untuk anak laki2nya yang berumur kira2 7 tahun tp berbadan gendut. Kelihatan sekali anak itu kecapekan dan mengantuk, karenanya saya tawarkan tempat duduk saya kepada sang Ibu namun dia menolak dgn jawaban diatas. Aneh, jawaban itu tidak bisa saya terima sebagai jawaban biasa, namun kata BELAJAR PRIHATIN itu terus menusuk kedalam hati saya dan memberi saya pengertian baru.

“Prihatin” yang diutarakan Ibu tersebut berbeda dgn arti harafiahnya yaitu bersedih hati, waswas, bimbang (krn usahanya gagal, mendapat kesulitan, mengingat akan nasibnya, dsb). Ibu tersebut org Jawa, saya tau dari bahasanya menggunakan logat Surabaya. Karena itu saya menarik arti kata “prihatin” dengan pengertian masyarakat Jawa. Dan arti “prihatin” dalam falsafah Jawa berarti belajar menahan diri, setia, menerima apa adanya / trimo ing pandum, sederhana, menjalani hidup yg sudah digariskan dgn kesungguhan sesuai dgn apa yg dia miliki skrg. Beliau menginginkan agar anaknya belajar untuk “prihatin” dengan keadaannya sekarang. Dimana dia harus berdiri sepanjang perjalanan Slipi – Karawaci, berdesak – desakan dengan penumpang lain. Untuk tetap terjaga meskipun matanya sudah sangat kelihatan mengantuk. Sepanjang perjalanan, saya tidak bisa melepaskan pandangan saya pada anak ini. Dan dalam pikiran saya kata “prihatin” itu terus berputar – putar dalam pikiran saya.

“Prihatin”, ada apa dengan prihatin? kenapa prihatin? Tiba – tiba saya diingatkan oleh peristiwa pada saat Yesus disalibkan. Penderitaan yang DIA alami sungguh luar biasa. Bahkan penjahatpun diperlakukan lebih manusiawi daripada Yesus. Jika kita membaca fakta – fakta pada penyaliban Yesus kita akan menemui banyak hal yang menggambarkan betapa Yesus begitu menderita namun DIA tidak pernah menolak setiap “cawan” yang harus diterimaNYA. Film Passion of the Christ menurut saya adalah film yang tepat dalam menggambarkan keadaan Yesus waktu disalib.

Saya pernah membaca didalam suatu artikel ttg hukuman dalam kerajaan Romawi, bahwa jika seseorang dihukum cambuk dan org itu tidak kuat dan jatuh dan tidak bisa bangun maka hukuman itu tidak lagi dilanjutkan. Dan Yesus-pun terjatuh, namun DIA bangun kembali dan tentara2 Romawi melanjutkan hukumannya dan akhirnya menyalibkan DIA. Cambuk yang dipakai juga bukan cambuk biasa yang hanya berujung runcing. Namun cambuk ini mempunyai ujung seperti mata kail, jadi ketika Yesus dicambuk, DIA mengalami dua kesakitan yang luar biasa ketika cambuk itu menancap di kulit dan dagingNYA dan ketika cambuk itu ditarik dari dagingNYA dan menyobek2 tubuhNYA. Yesus tidak mau meminum cairan cuka yang diberikan kepadaNYA karena DIA tahu bahwa guna cairan adalah semacam Analgesic yang sebenarnya membantu Yesus mengurangi rasa sakit yang dideritaNYA. DIA ingin penderitaanNYA SEMPURNA.

Yesus telah mengajarkan kepada saya ttg PRIHATIN melalui seorang Ibu dan anaknya didalam bus kota. Yesus mengajarkan kepada saya bahwa Ibu dan anak itu bisa saja menerima tawaran saya, namun Ibu itu tidak akan pernah mengajarkan kepada anaknya arti PRIHATIN. Begitu pula Yesus, DIA bisa saja jatuh dan tidak bangun lagi saat dicambuk, namun DIA memilih untuk bangun, karena DIA setia untuk tujuanNYA, menyelamatkan umat manusia daripada belenggu DOSA.

Saya mencoba menelaah kehidupan saya, betapa ada banyak hal dimana saya bisa belajar “prihatin” dalam beberapa hal, ambil contoh DOA, namun yang sering saya lakukan adalah lebih menuruti keinginan daging saya utk tidur drpd berDOA. Ada banyak hal dalam hidup ini, yang menuntut kita untuk prihatin, setia, bersyukur dalam setiap keadaan dan menjalani apa yang ada pada kita sekarang demi satu tujuan mulia, menyenangkan hati TUHAN. Ada begitu banyak Firman Tuhan yang menuntut kita untuk prihatin dalam menjalaninya, tergantung seberapa setia kita menjalaninya. Yang pasti Yesus telah mengajarkan kepada kita, bahwa sampai pada kematian DIA tetap setia. Yang saya jalani sekarang masihlah sangat jauuuuuuh daripada penderitaan. Doa yang harus saya lakukan adalah Doa untuk membangun diri saya sendiri, belum berdoa buat orang lain dan banyak hal lain namun saya percaya kita semua lebih mengutamakan diri dari pada BAPA.

Banyak diantara kita yang sedikit demi sedikit mulai meninggalkan hakikat keKRISTENan yang mana adalah penderitaan, memikul salib tiap hari dan mengikut YESUS. Bahkan tanpa disadari, kita menjadi serupa dengan dunia ini dan tidak setia dan akhirnya merelakan diri kita untuk menikmati kenyamanan, kesejahteraan, kekayaan bahkan penderitaan juga namun di luar YESUS.

Ampuni kami ya Tuhan, karena kami tidak setia, tidak bersyukur dan tidak prihatin…

HAPPY PASSOVER….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s