Bis Hidup Saya

Setiap pagi selama dua tahun ini saya selalu menggunakan Bis Patas AC untuk transportasi berangkat dan pulang kantor. Disamping murah, mendukung program pemerintah utk menggunakan Mass TransportationūüėÄ. Dan saya juga masih bisa melanjutkan tidur saya pagi itu. Saya harus bangun pagi kira2 jam 5, lalu persiapan dan kurang dari jam 6 pagi saya sudah harus di bis supaya tidak terjebak macet. Perjalanan kira2 memakan waktu antara 40-60 menit untuk jarak rumah saya di Karawaci menuju kantor saya di Mampang Prapatan.

Saya mengamati, bahwa banyak sekali macam2 bus yang saya naiki. Mulai dari yang tua, jelek, baru, suka mogok dll.

Ada yang sudah tua sekali sampe2 persenelingnya suka rontok dijalan, jadi sepanjang perjalanan hanya pasang gigi satu, can you imagine that?.

Ada yang baru bermesin Hino AK8 front engine seperti bis bis punya Mayasari Bakti dengan warna khas hijaunya.

Ada yang AC nya dinginnya minta ampun sampe2 saya lupa berada di dalam bus atau di kulkas.

Ada yang AC nya cuma keluar angin, kenceng tapi nggak dingin, dijamin masuk angin begitu turun bis.

Ada yang suka nurunin dan ngoper penumpang sembarangan dgn alasan jalan yg dilalui macet jadi lebih baik puter arah cari penumpang baru (ha ha ha).

Dari bermacam2 bis yang saya naiki, baik yang jelek, tua, bagus, AC dingin ada satu kesamaannya, yaitu fungsi dari bis bis itu adalah mengantarkan saya dari rumah ke kantor. Mau jelek atau bagus, tetap bis bis itulah yang mengantar saya tiap pagi ke kantor. Dalam keadaan ini tentu saja saya sebagai penumpang akan lebih menghargai bis dengan kondisi yang bagus, masih baru, AC yang normal.

Namun apakah kita bisa seenaknya memilih bis mana yang saya tumpangi? Tidak bisa, karena pagi itu ratusan, bahkan ribuan orang berebut naik bis untuk pergi ke tempat kerja masing2. Tanpa pilih pilih bis yang bagus, AC, NON AC, tua, asal trayeknya lewat kantor, saya akan naik. Jika saya menunda naik bis pagi itu, saya tentu saja akan telat masuk ke kantor.

Biasanya saya akan tidur dengan bahagia jika saya dapat tempat duduk, namun seringkali saya ngomel dalam hati jika harus berdiri dan berdesak2an. Saya jarang sekali berpikir bahwa tujuan saya ada didalam bis ini adalah supaya saya sampe di tempat tujuan saya, kantor saya dan tidak telat.¬†Hal yang sama dalam hidup saya pun berlaku demikian, ada banyak bermacam2 “bis” yang saya tumpangi dalam hidup demi untuk mengantarkan saya kepada pendewasaan, pengertian baru, pertobatan, dan pengenalan akan TUHAN. Terkadang “bis” itu jelek dan tua dan terkadang “bis” itu bagus dan nyaman.

Saya akan tersenyum dan tenang jika ada “bis” berkat yang saya naiki. Saya akan senang jika “bis” pelayanan saya berbuah sukses.

Namun saya seringkali mengeluh,

kenapa harus “bis” ini yang saya naiki¬†disaat saya sakit.

Kenapa harus “bis” ini yang saya naiki ini disaat sales dan¬†pekerjaan¬†saya bermasalah.

Kenapa harus “bis” ini yang saya naiki disaat ada konflik dalam rumah tangga dan keluarga saya.

Saya jarang sekali melihat tujuan akhir dari “bis bis”¬†tersebut adalah mengantar saya kepada satu tujuan mulia, kepada satu pengubahan karakter, kepada satu hubungan yang lebih baik dalam pekerjaan dan keluarga saya, kepada satu pengenalan yang lebih dalam akan SANG PENCIPTA.

Indera¬†saya selalu terpusat kepada “BIS”, kepada KEADAAN, kepada sesuatu¬†yang dipakai untuk mendewasakan saya.

Saya begitu terpesona dengan berkat dan keberhasilan, sehingga tidak mengerti bahwa berkat itu adalah sarana untuk saya mencapai suatu pemahaman baru.

Saya bersungut2 dengan keadaan buruk kesehatan saya tanpa saya sadar bahwa di akhir keadaan buruk saya, ada satu pengertian baru, ada satu janji TUHAN yang akan dan telah DIA genapi.

Saya mengeluh dengan sangat disaat ada konflik dalam rumah tangga saya, tanpa saya tidak mau tahu bahwa dengan adanya konflik itu saya bisa meningkatkan kualitas komunikasi saya dengan istri atau suami, dengan orang tua atau kakak adik saya.

Saya ingin lari dan keluar dari pekerjaan saya disaat ada masalah dalam pekerjaan tanpa saya sadar bahwa masalah itu ada sehingga saya bisa mendapat skill baru dalam pekerjaan saya.

Saya ingin meninggalkan TUHAN disaat doa doa saya tidak dijawab, disaat keluh kesah saya tidak mendapat solusi, disaat ada pergumulan yang sepertinya harus saya tanggung sendiri dan tanpa saya sadari bahwa adanya saya sampai sekarang ini itu semua adalah jawaban doa, solusi masalah dan kekuatan dari TUHAN yang tanpa saya sadar DIA telah anugerahkan pada saya sehingga saya bisa melewatinya.

Saya terlalu berfokus kepada “bis” jelek, “bis” bagus, “bis” tua tanpa saya sadar pada akhirnya saya sampai kepada satu tujuan yang tidak saya mengerti dan saya lupa bahwa itu semua karena saya menaiki “bis” itu. Saya tidak melihat apa yang TUHAN mau dari yang saya alami. Saya tidak bisa melihat bahwa diujung perjalanan ini ada TUHAN yang memegan satu pengenapan akan janji janjiNYA. Itu semua karena mata saya berpaling kepada keadaan saya sekarang, pada masalah saya sekarang, pada kerugian yang saya alami sekarang dan tidak kepada TUHAN.

Mau tidak mau, suka tidak suka, semua orang akan mengalami satu proses dalam hidupnya, bahkan ada pepatah mengatakan bahwa hidup adalah proses. Selama kita masih hidup, proses pembentukan itu akan tetap berjalan sampai kita MATI. Banyak orang, termasuk saya seringkali berpendapat bahwa eksistensi saya, keberhasilan saya melewati masa sulit, peraihan kesuksesan saya adalah pada diri saya, pada kemampuan saya. Itu karena saya terlalu berfokus kepada kendaraannya, kepada keadaannya sehingga saya menciptakan suatu jalan, suatu solusi dari pikiran saya sendiri tanpa saya melihat dan bersyukur akan keadaan saya. Apa yang akan saya dapat solusi saya? Seandainya saya dapat melewati cobaan ini, saya akan sombong, saya akan besar kepala dan saya percaya kepada jalan saya sendiri.

Tuhan memberi saya kemampuan untuk memecahkan masalah, Tuhan memberi saya kekuatan untuk melewati badai, namun satu yang perlu saya ketahui bahwa kemampuan dan kekuatan itu adanya disaat saya tidak berfokus kepada “bis”, keadaan dan kondisi saya. Kekuatan itu adanya disaat saya melihat kedepan, melihat arah tujuan keadaan saya, melihat kepada kemana TUHAN akan membawa saya. Disaat saya melihat keadaan, kelemahan, keburukan, konflik, saya akan bertindak berdasarkan keadaan buruk tersebut, saya akan bergerak berdasarkan keadaan saya yang sedang dalam konflik. Yang tentu saja segala sesuatu yang diawali dari yang buruk pasti akan menghasilkan keburukan juga.

Perumpaan talenta mengajarkan kita ttg hal diatas, bahwa hamba dengan satu talenta dihadapkan kepada satu kondisi dimana Tuannya itu kejam, dan hamba itu bertindak berdasarkan matanya, dia tidak melihat apa yang akan terjadi jika saja dia menjalankan satu talenta yang Tuannya berikan dan akhirnya solusi yang ada dari si hamba adalah menyimpan talenta itu sampai Tuannya menagihnya dan akhirnya kematian yang dia dapat.

Pagi itu saya menaiki bis dengan pengertian baru, apapun bis yang saya naiki hanya satu tujuannya yaitu menuju tempat tujuan saya. “Bis” apa yang diijinkan TUHAN untuk saya naiki, saya akan bersyukur sambil senantiasa melihat kedepan ketempat tujuan saya selanjutnya. Karena saya percaya bahwa ada satu KEMULIAAN yang TUHAN sudah sediaan untuk saya kecap nanti waktu saya sampai ditempat tujuan saya.

And we know that all things work together for good to them that love God, to them who are the called according to his purpose.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s